Laman

MY FAITH

MANUSIA SELALU HIDUP DALAM KERAGUAN, KERAGUAN ADALAH BAGIAN DARI KEHIDUPAN, JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK MENCARI KEBENARAN, SAMPAI KAPANPUN TERUSLAH BERLARI JANGAN PERNAH BERHENTI

TEMUKANLAH KEBENARAN DAN DENGAR BISIKAN HATI KECILMU, JANGAN INGKARI APA YANG SUDAH MENJADI KEBENARANMU, WALAUPUN HARUS HIDUP MENANGGUNG MALU
Tampilkan postingan dengan label KISAH MUALAF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH MUALAF. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

William Abdullah Quilliam: Perintis dan Penyebar Islam di Liverpool



Agama Islam di Inggris telah ada sejak beberapa abad silam. Karenanya, tak heran bila agama yang dibawa Rasulullah SAW mendapat tempat di hati warga Inggris. Sejumlah tempat ibadah pun akhirnya berhasil didirikan.

Namun, belakangan ini, seiring dengan gencarnya phobia terhadap umat Islam, agama yang mulia ini kerap dijadikan bahan ledekan oleh mereka yang tak memahami Islam. Walau begitu, hal tersebut tak menyurutkan niat seseorang yang diberi hidayah Allah untuk terus menyuarakan Islam.

Pada pertengahan abad ke-19, seorang tokoh kenamaan Inggris mencoba memahami Islam. Dan akhirnya, ia pun menemukan kedamaian di dalamnya. Bertempat di sebuah bangunan yang kini sudah tampak kusam. Bahkan, harian The Independent di Inggris, pernah memuat tulisan berjudul "Forgotten Champion of Islam: One Man and His Mosque" yang ada pada edisi 2 Agustus 2007.

Bangunan yang terletak di kawasan Brougham Terrace No 8, West Derby Street, Liverpool, Inggris tak ubahnya seperti sebuah rumah hancur. Demikian tulis harian The Independent.

Bangunan bercat putih kusam dengan bagian pintu depan yang terlihat reyot dan pintu belakang yang penuh dengan coretan grafiti serta sarang burung dara yang menghiasi bagian atap bangunan dan jamur yang melekat di hampir seluruh permukaan dinding ini menyimpan cerita panjang mengenai Islam di negeri Ratu Elizabeth II ini.

Bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Islam di Inggris pada abad ke-19 dan 20 Masehi ini adalah milik William Henry Quilliam. Komunitas Muslim di kota Liverpool sudah sepantasnya berterima kasih kepada William.

Berkat jasanya, syiar Islam bisa merambah ke kota yang terletak di bagian barat laut Inggris. Dan, masyarakat Muslim di sana bisa menjalankan ibadah dan berbagai kegiatan lainnya secara bersama di sebuah bangunan yang memadai.

Pada awalnya, tepatnya pada 1889, bangunan milik William ini difungsikan sebagai Islamic center dengan nama Liverpool Muslim Institute. Namun, dalam perkembangan berikutnya, bangunan Liverpool Muslim Institute ini juga difungsikan sebagai masjid dan sekolah bagi komunitas Muslim Liverpool. Sejarah mencatat, ini merupakan bangunan masjid dan Islamic center pertama yang didirikan di Inggris.

Siapa sebenarnya sosok William Henry Quilliam ini? Laman Wikipedia menyebutkan bahwa pria kelahiran Liverpool, 10 April 1856 ini berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Robert Quilliam, adalah seorang pembuat jam. Sejak kecil William sudah mendapatkan pendidikan yang memadai. Oleh kedua orang tuanya ia disekolahkan di Liverpool Institute dan King William's College. Di kedua lembaga pendidikan ini, ia mempelajari bidang hukum. Pada 1878, William memulai kariernya sebagai seorang pengacara.

William tumbuh dan dibesarkan sebagai seorang Kristen. Agama Islam baru dikenalnya ketika ia mengunjungi wilayah Perancis selatan pada 1882. Sejak saat itu, ia mulai banyak mempelajari mengenai Islam dan ajarannya. Ketertarikannya terhadap Islam semakin bertambah manakala ia berkunjung ke Aljazair dan Tunisia.

Berdakwah
Pada 1887, sekembalinya dari mengunjungi Maroko, William merealisasikan keinginannya untuk berpindah keyakinan ke agama Islam. Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdullah Quilliam. Dengan menyandang nama baru ini, William gencar mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat Liverpool.

Untuk mendukung syiar Islam di kota Liverpool, ia berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga khusus bagi orang-orang yang ingin mengetahui dan belajar tentang Islam. Maka, pada 1889, ia pun mendirikan Liverpool Muslim Institute. Guna menarik minat warga kota Liverpool, lembaga yang didirikannya ini tetap buka pada saat hari Natal.

Tak hanya sebatas menjadi pusat informasi Islam. Abdullah kemudian memfungsikan bangunan Liverpool Muslim Institute menjadi tempat beribadah bagi komunitas Muslim Liverpool. Bangunan Masjid Liverpool Muslim Institute ini mampu menampung sekitar seratus orang jamaah.

Pendirian masjid ini kemudian diikuti oleh berdirinya sebuah perguruan tinggi Islam di kota Liverpool dan sebuah panti asuhan bernama Madina House. Sebagai pimpinan perguruan tinggi Islam, Abdullah menunjuk Haschem Wilde dan Nasrullah Warren.

Meski berstatus sebagai lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi yang didirikan William ini tidak hanya menerima murid dari kalangan keluarga Muslim saja. Murid dari keluarga non-Muslim pun diperbolehkan untuk belajar di sana. Guna menarik minat warga non-Muslim untuk mempelajari Islam, pihak pengelola kerap menyelenggarakan acara debat mingguan dan komunitas sastra.

William yang sejak muda dikenal aktif sebagai penulis sastra ini berupaya menarik simpati masyarakat non-Muslim di Liverpool melalui karya-karya sastranya. Upaya-upaya yang ditempuhnya untuk menyebarluaskan ajaran Islam melalui karya sastra dan lembaga-lembaga amal yang didirikannya itu berbuah manis. Dalam rentang waktu sepuluh tahun berdakwah, ia berhasil mengislamkan lebih dari 150 warga asli Inggris, baik dari kalangan ilmuwan, intelektual, maupun para pemuka masyarakat.

Bahkan, ibunya sendiri yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang aktivis Kristen tertarik untuk masuk Islam setelah membaca tulisan-tulisannya.

Berbagai tulisannya mengenai Islam ini ia terbitkan melalui media mingguan The Islamic Riview dan The Crescent yang terbit dari 1893 hingga 1908. Keduanya beredar luas secara internasional. Harian The Independent menulis bahwa William memanfaatkan ruang bawah tanah masjid sebagai tempat untuk mencetak karya-karya tulisnya.

Disamping itu, ia juga menerbitkan tiga edisi buku dengan judul The Faith of Islam pada 1899. Bukunya ini sudah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dunia. Ratu Victoria dan penguasa Mesir termasuk di antara tokoh dunia yang pernah membaca bukunya ini.

Berkat The Faith of Islam, dalam waktu singkat nama Abdullah Quilliam dikenal luas di seluruh negeri-negeri Muslim. Berkat bukunya ini juga ia kemudian banyak menjalin hubungan dengan komunitas Muslim di Afrika Barat.

Berkat karyanya ini pula, ia mampu menerima berbagai penghargaan dari para pemimpin dunia Islam. Dia mendapatkan gelar Syekh al-Islam dari Sultan Ottoman (Turki Usmani), Abdul Hamid II pada 1894 dan diangkat sebagai atase khusus negeri Persia untuk Liverpool.

Ia juga mendapat sejumlah hadiah berupa uang dari pemimpin Afghanistan. Uang tersebut ia gunakan untuk mendanai perguruan tinggi Islam miliknya di Liverpool.

Yohanes Paulus (Bambang Sukamto) : Ibu Mengancam Bunuh Diri

NAMA saya Yohanes Paulus. Saya lahir di Yogyakarta. Tepatnya pada 26 September 1944. Saya berasal dari keluarga yang beragama Kristen Katolik. Keluarga saya sangat dikenal sebagai penganut Kristen yang taat dan fanatik. Ayah saya, Laksamana Pertama (Purn.) R.M.B. Suparto dan ibu saya, Maria Agustine Kamtinah. (Red : Dr. H. Bambang Sukamto, saat ini aktif di kegiatan sosial Harian Republika / Dompet Dhuafa Republika dan Ketua Yayasan Masjid Namira (Al Manthiq) Jl Tebet Barat Dalam V Jakarta Selatan, yang secara khusus melakukan pembinaan kepada para mualaf)
Latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan yang berbasis agama Kristen Katolik, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan di lingkungan keluarga. Sejak kecil saya sudah dididik menjadi penganut agama yang fanatik. Oleh orang tua, saya disekolahkan di sekolah Kristen. Mereka memasukkan saya ke Taman Kanak-kanak Santa Maria Yogya. Kemudian dilanjutkan pada Sekolah Dasar Kanisius Yogya. Lalu dimasukkan ke sekolah menengah pertama hingga menengah atas di sekolah Kanisius Jakarta.

Untuk lebih memantapkan agama dalam diri saya, pada umur 12 tahun saya dipermandikan atau dibaptis. Oleh gereja, saya diberi nama Yohanes. Pada umur 17 tahun, saya pun mendapat nama tambahan lagi yakni Paulus. Nama itu d iberikan setelah saya mengikuti upacara sakramen penguatan yang dilakukan oleh pihak gereja. Jadi, sekarang nama Kristen saya adalah Yohanes Paulus. Nama ini menggantikan nama pemberian orang tua saya, yaitu Bambang Sukamto.

Anti Islam

Karena latar belakang pendidikan dan pergaulan selalu dalam lingkaran agama Kristen Katolik, maka sejak kecil saya selalu diberi pandangan bahwa agama Islam itu agama yang sesat. Orang-orang Islam itu adalah domba-domba yang perlu diselamatkan. Setiap kali mendengar suara mereka mengaji, selalu saya anggap mereka sedang memanggil setan.

Begitu pun setiap saya melihat mereka shalat, saya beranggapan mereka sedang menyembah iblis. Perasaan anti Islam terasa begitu kuatdalam diri saya, sehingga saya berniat untuk menyerang teman-teman yang beragama Islam. Kepada mereka, saya selalu mempromosikan bahwa agama sayalah yang paling benar.

Setelah lulus sekolah lanjutan atas, saya melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Di lingkungan kampus ini saya kembali bergabung dalam kelompok aktivis gereja. Dalam kelompok ini saya juga bergabung dalam sebuah kelompok yang sangat militan. Dalam kelompok militan ini saya berjuang sebagai prajurit Perang Salib yang bertujuan menghadapi syiar agama Islam di Indonesia.

Setelah bergabung dalam kelompok ini, saya semakin yakin bahwa umat Islam yang mayoritas ini merupakan domba-domba yang harus diselamatkan. Saya akan menyelamatkan dan mengajak mereka untuk ikut dalam ajaran Yesus Kristus, khususnya masuk dalam agama Kristen Katolik.

Dalam studi kedokteran ini, saya juga bergabung dalam sebuah kelompok studi. Kelompok ini beranggotakan empat orang mahasiswa. Tiga orang teman saya beragama Islam, sedangkan yang Kristen cuma saya. Kami selalu belajar bersama di rumah saya. Bila tiba waktu shalat, mereka pamit sebentar untuk shalat berjamaah. Usai shalat, mereka saya ajak untuk berdiskusi mengenai masalah agama.

Dalam diskusi itu, saya mulai menyerang mereka. Saya selalu mendiskreditkan agama mereka. Misalnya, mengapa shalat itu harus menghadap kiblat dan harus berbahasa Arab dalam membacanya. Saya katakan pada mereka, kalau begitu Tuhan kalian tidak sempurna, karena hanya ada di Arab.

Setelah itu, saya membandingkan dengan Tuhan agama saya yang ada di mana-mana. Mendapat serangan itu, teman-teman saya tenang saja. Mereka menjawab bahwa di mana pun berada, orang Islam dapat shalat berjamaah dan selalu sama bahasanya dalam beribadah. Ini menunjukkan bahwa agama Islam itu agama yang benar dan universal (untuk semua manusia). Mereka malah balik bertanya, mengapa orang Kristen itu kalau bangun gereja tidak satu arah? Malah terkesan berantakan ke segala arah? Itu, kata mereka, menunjukkan bahwa Tuhan saya akan bingung ke mana harus berpaling.

Mereka juga mengatakan, bahasa agama saya itu tidak sama, bergantung wilayah. Jadi, kesimpulannya, mereka mengatakan bahwa agama saya itu hanya agama lokal. Saya kaget dan tersentak mendengar jawaban itu. Ternyata mereka pandai-pandai, tidak seperti dugaan saya selama ini.

Masuk Islam

Saat duduk di tingkat IV FKUI, saya menjalin hubungan dengan gadis muslimah. Gadis itu ingin serius kalau saya sudah beragama Islam. Tawaran ini tidak saya penuhi, karena sikap anti-Islam saya kala itu sangat kuat. Akhirnya kami putus. Sikap keras gadis ini membuat saya penasaran. Mengapa gadis itu tidak goyah keyakinannya? Rasa penasaran ini mendorong saya untuk banyak membaca dan mempelajari Islam.

Saya coba melahap buku-buku Islam, seperti Akidah dan Tauhid Islam, Api Islam, Soal Jawab tentang Islam, dan Islam Jalan Lurus. Untuk hal yang tidak jelas, saya sering bertanya kepada teman teman. Saya juga sering menghadiri kuliah dan diskusi agama Islam.

Dari sinilah, tanpa saya sadari, muncul ketertarikan terhadap Islam. Saya begitu kagum dan hormat kepada pribadi Nabi Muhammad saw yang telah membawa dan memperjuangkan agama agung dan mulia ini. Dari sini pula, saya dapat memperoleh jawaban dari berbagai persoalan yang selama ini menjadi ganjalan dalam agama saya. Saya mulai percaya, Islam adalah agama yang rasional, mengajarkan disiplin, bersifat sosial, dan menjunjung tinggi kesusilaan.

Pengalaman seperti ini membuat keimanan saya goyah. Saya sering lupa pergi ke gereja. Saya sering terbangun jika mendengar azan subuh. Saya sering mendengar suara yang memanggil untuk beriman secara benar. Dalam hati, saya ingin meniatkan untuk masuk agama Islam. Tapi, saya belum beraru mengutarakannya kepada keluarga dan teman-teman seagama.

Tahun 1971, keinginan untuk masuk Islam semakin kuat. Teman-teman kuliah dulu mendukung keinginan itu. Akhirnya pada bulan Ramadhan tahun itu juga, saya berikrar menjadi seorang muslim. Di bawah bimbingan cendekiawan muslim Doktor Nurcholish Madjid, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di rumah Bapak Syaaf di Kramat Kwitang.

Rasa haru dan gembira pada saat itu tidak terlupakan. Teman-teman menyambut baik keislaman saya itu. Saya merasakan betapa sejuk dan nikmatnya persaudaraan Islam ini. Nama baptis dan sakremen, Yohanes Paulus, segera saya ganti dengan nama pemberian orang tua saya semula, yakni Bambang Sukamto.

Keislaman saya ini mendapat tantangan dari keluarga dan teman-teman gereja. Mereka menyindir, mencela, dan bahkan menuduh saya sesat. Mereka juga berusaha untuk menarik saya kembali ke agama lama. Yang paling berat adalah tantangan dari ibu kandung saya. Saya dimarahi dan dicaci maki habis-habisan, karena dianggap telah berkhianat. Ibu juga mengancam akan bunuh diri jika saya tidak kembali ke agama Kristen. Tantangan ini saya hadapi dengan sabar dan tabah.

Lama-kelamaan tantangan ibu saya itu reda juga. Akhirnya, saya dapat menjalankan ibadah ini dengan baik dan tenang. Saya banyak belajar tentang Islam. Alhamdulillah, pada tahun 1991, saya bersama istri dapat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Dan untuk membantu para mualaf dalam mempelajari Islam, saya bersama teman-teman mendirikan sebuah pengajian/majelis taklim Al-Mantiq. (Maulana/Albaz) (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ ).

Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket

Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia. Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk, rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.
Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket Amerika Serikat (NBA  Most Valuable Player ). Predikat itu diraihnya sebanyak enam kali.

Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya, ia mendapat julukan 'Raja Bola Basket'. Dan berkat prestasinya ini, 19 kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.

Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus, Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA, mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat itu.

Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.

Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.


Masuk Islam
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.

Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini, adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.

Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik ( Most Valuable Player , MPV) dan 'Rookie of the Year' (Pendatang baru terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam. Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.

Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.

Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah menjadi Muslim.

Nama budak
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. ''Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni,'' terangnya.

Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.

Namun, Hamaas berkata, ''Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.'' Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem, juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.

''Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi, Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip,'' terangnya.

Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ia tepis. ''Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.''
Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.

Rajin Belajar
Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat meluangkan waktu untuk mendalami Islam. ''Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,'' ujarnya.

Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. ''Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu,'' paparnya.

Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.

''Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu.'' Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah haji.

Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya, Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.

''Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas apa yang telah saya lakukan,'' tukasnya.

Antara Akting, Menulis, dan Melatih

Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya. Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film  Game of Death yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot Roger Murdock dalam film komedi  Airplane! .  

Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi  Full House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs , dan  Emergency! . Dia juga muncul di film televisi  Stepen King's The Stand dan  Slam Dunk Ernest . Di serial  Full House , ia harus beradu akting dengan anaknya sendiri, Adam.

Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan menjadi  co-producer eksekutif dari film televisi  The Vernon Johns Story . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara  The Colbert Report . Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam  Nazi Gold .

Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr, Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya tujuh buku yang kesemuanya  best seller .

Buku-buku hasil karyanya, antara lain  Giant Steps yang ditulisnya bersama Peter Knobler (1987),  Kareem (1990),  Selected from Giant Steps (1999),  Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American Achievement yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996),  A Season on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches yang ditulisnya bersama Stephen Singular (2000),  Brothers in Arms: The Epic Story of the 761st Tank Battalion dan  WWII's Forgotten Heroes yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan  On the Shoulders of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance yang ditulisnya bersama Raymond Obstfeld (2007).

Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.

Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum. Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan kontribusi 14 poin dan delapan  rebound per  game .

Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. dia/sya/taq



Biodata :

Nama Asli : Ferdinand Lewis Alcindor Jr
Nama Muslim : Kareem Abdul Jabbar
Masuk Islam : 1971
Lahir : New York City, 16 April 1947
Orang Tua : Ferdinand Lewis Alcindor Sr dan Cora Lilian
Klub Pertama : Tim Basket UCLA

Klub Profesional :
- Milwaukee Bucks (1969-1975)
- LA Lakers (1975-1989)

Penghargaan:
- Enam kali NBA MPV (1971-1972, 1974, 1976-1977, 1980)
- 19 kali menjadi tim NBA All Star (1970-1977 dan 1979-1989).
- Dua kali Finalis NBA MPV (1971, 1985)
- 10 kali All-NBA Team (1971-1973, 1974, 1976-1977, 1980-1981, 1984, 1986).
- Lima kali All-NBA Second Team (1970, 1978-1979, 1983, 1985).
- Lima kali NBA All-Defensive First Team (1974-1975, 1979-1981)
- Enam kali NBA All-Defensive Second Team (1970-1971, 1976-1978, 1984).
- NBA Rookie of The Year (1970)
- NBA All-Rookie Team (1970); dan banyak lagi

Prestasi :

- Juara NBA (1971) bersama Milwaukee Bucks
- Juara NBA (1980, 1982, 1985, 1987, 1988) bersama LA Lakers

Lady Evelyn: Bangsawan Inggris yang Pertama Kali Naik Haji

JAKARTA--Pada musim haji tahun 1933 silam, menyimpan cerita tersendiri bagi masyarakat Kota Suffolk, Inggris, khususnya umat Islam. Sebab, pada tahun itu, salah seorang penduduknya pergi ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Hebatnya lagi, ia adalah seorang perempuan. Namanya adalah Lady Evelyn Zainab Murray Cobbold. Konon, dialah Muslimah pertama aslI Inggris yang menunaikan ibadah haji. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk kepercayaan Anglikan, berita kepergian Evelyn Cobbold ke Makkah itu membuat kaget masyarakat Inggris, terutama penduduk Kota Suffolk.
Mengingat Evelyn Cobbold berasal dari keluarga bangsawan Suffolk yang paling berpengaruh. Karuan saja, kabar tersebut menghiasi pemberitaan media-media di Inggris saat itu. Sejumlah media bahkan menempatkannya sebagai headline di halaman depan.

Laman Wikipedia menyebutkan bahwa Lady Evelyn merupakan putri tertua dari pasangan Charles Adolphus Murray-Earl of Dunmore ketujuh-dan Lady Gertrude Coke-yang merupakan putri dari Earl of Leicester kedua. Perempuan yang lahir di Edinburgh pada 1867 ini, disebut-sebut masih keturunan dari Pangeran William I Inggris, yang juga dikenal sebagai William Sang Penakluk dan William dari Normandia.

Dalam tulisannya yang bertajuk "From Suffolk to Saudi", editor berita BBC Suffolk, Lis Henderson, mengungkapkan bahwa Lady Evelyn memutuskan untuk memeluk Islam pada akhir 1800-an atau menjelang abad ke-19. Di usia kanak-kanak, ia sudah mempelajari berbagai macam keyakinan. Sewaktu kecil, ia kerap menghabiskan liburan musim dinginnya dengan mengunjungi wilayah Afrika Utara. Di benua hitam inilah Evelyn tertarik dengan Islam.

Lady Evelyn menikah dengan salah seorang anggota keluarga Cobbold, John Dupius Cobbold, pada 1891. Di negeri Inggris, keluarga Cobbold dikenal luas sebagai pendiri Cobbold Brewery, industri pembuatan bir. Namun, pernikahannya dengan John Cobbold hanya bertahan selama tiga dasawarsa. Pada 1922, pasangan ini memutuskan untuk berpisah.

Obat pelipur lara
Kandasnya bahtera rumah tangga yang telah dibinanya selama 31 tahun membuat Lady Evelyn mengalami kesedihan yang teramat dalam. Berbagai usaha telah ditempuhnya untuk menghapus kesedihan tersebut, tetapi tidak juga berhasil. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke Afrika. Di benua hitam ini, ia menemukan obat pelipur laranya tersebut, yaitu agama Islam.

Dalam buku Islam Our Choice, bangsawan asal Suffolk ini mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti kapan dia mendapatkan hidayah tersebut. "Saya merasa kalau saya selamanya sebagai seorang Muslim. Ini tidaklah aneh, bila mengingat Islam adalah agama fitrah, di mana seorang anak dibiarkan tumbuh menurut fitrahnya," ujarnya. "Karena itu, saya sependapat dengan perkataan seorang sarjana Barat bahwa Islam adalah agama rasional dan sesuai dengan akal sehat manusia."

Ia mengakui, makin banyak mempelajari dan membaca literatur tentang agama Islam, semakin bertambah pula keyakinannya akan keistimewaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dibandingkan agama lainnya. Menurutnya, Islam adalah agama yang paling sesuai dengan kehidupan dan segala problematikanya. Ia juga menegaskan, Islam adalah agama yang paling mampu menyelesaikan segala kesulitan dan kepincangan di dunia ini, serta yang dapat membawa manusia pada perdamaian dan kebahagiaan.

"Saya sudah tidak ragu bahwa Allah adalah tunggal. Dan Musa, Isa, Muhammad, serta banyak nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum mereka adalah nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu dari Allah, Tuhan mereka. Setiap umat diutus Allah kepadanya seorang rasul. Kita terlahir ke dunia ini tidak membawa dosa asal, karenanya kita tidak membutuhkan orang lain untuk menanggung atau menebus dosa kita," paparnya.

Lady Evelyn menambahkan, Islam identik dengan kedamaian. Muslim adalah seorang yang harmonis dalam melaksanakan ajaran Pemilik dan Pencipta Alam ini. Di samping itu, seorang Muslim adalah orang yang hidup damai dengan Allah dan hidup damai pula dengan makhluk ciptaan Allah.

Wanita Inggris Pertama Menjadi Hajah

Pada April 1933, ia berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Ia menjadi wanita Inggris pertama yang melakukan perjalanan ibadah haji. Saat menunaikan haji, usianya terbilang lanjut, 65 tahun. Lady Evelyn mengakui, ibadah haji memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupannya. Ia pun merasa takjub dengan ritual ibadah rukun Islam ini.
"Bayangkan! Seseorang menceburkan diri ke dalam kelompok manusia yang begitu besar dengan jumlahnya mencapai jutaan orang, dan datang dari segenap penjuru dunia untuk melakukan ibadah suci di tempat yang suci. Mereka meleburkan diri ke dalam kelompok manusia, lalu dengan segala kerendahan hati, khusyuk, dan tunduk bersama-sama memuji, membesarkan, dan menyucikan Allah," ujarnya.

Mengunjungi negeri tempat awal munculnya agama Islam dan menyaksikan tempat-tempat bersejarah dalam perjuangan Rasulullah SAW, menjadi pengalaman yang hebat sepanjang hidupnya. "Dari pengalaman ini, saya terdorong untuk mencontoh kehidupan Rasulullah," paparnya.

Ia juga melihat ibadah haji sebagai sarana untuk memperkokoh rasa persaudaraan di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Perbedaan warna kulit dan jarak antara satu dan yang lain tidak menjadi penghalang. Segala perbedaan kesukuan dan mazhab dikesampingkan pada saat itu. "Kesatuan akidah umat Islam telah menjadi persaudaraan yang kokoh kuat, persaudaraan yang telah memberikan inspirasi kepada mereka untuk dapat mewarisi kebesaran nenek moyang mereka," tukasnya.

Pengalamannya selama menunaikan haji ini, kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Pilgrimage to Mecca. Buku ini dirilis pertama kali pada 1934. Seiring perjalanan waktu dan usia yang cukup lanjut, perempuan bangsawan kerajaan Inggris ini akhirnya wafat pada Januari 1963.

Sabtu, 06 November 2010

Yusuf al-Islami : Giat Menghalau Kristenisasi


Yusuf al-Islami adalah sosok ustadz yang disegani di Lampung. Meski usianya terbilang masih relatif muda, namun pria keturunan Tionghoa dengan nama lahir Yusuf Hadi Pranata ini dikenal giat berdakwah. Sehari-hari, ia aktif mengisi pengajian ibu-ibu dan remaja. Dengan metode penyampaian yang tegas, mudah dan gamblang, banyak umat Islam mendatangi tabligh-tabligh yang disampaikannya. Selain gamblang, isi ceramah-ceramahnya pun sangat lugas dan enak didengar sehingga mudah dicerna masyarakat.

Laki-laki yang terlibat dalam sejumlah organisasi ini juga dikenal aktif merajut ukhuwah Islamiyah antar-ormas Islam. Dalam setiap ceramahnya, Yusuf tak pernah bosan mengingatkan umat agar bersatu dan bersama-sama membangun ukhuwah.

Yusuf pun sering mengingatkan bahwa maju-mundurnya Islam bergantung dari sikap umat Islam sendiri. Jika umat Islam bersatu, maka kemenangan akan segera datang. Namun jika sebaliknya, umat Islam akan selalu berada pada posisi sulit dan terpuruk.
Dakwah tampaknya sudah mendarah daging di tubuh Yusuf. Bersama teman-temannya di Gerakan Mubaligh Islam (GMI) Lampung, ia giat membina akidah umat dari serangan gerakan kristenisasi yang makin gencar mengepung Lampung.

Untuk membentengi umat dari serangan kaum kuffar itu, Yusuf menerbitkan buku-buku kristologi, antara lain: “Apa Kata al-Kitab Tentang Agama Kristen” dan “Mengungkap Fakta Penyimpangan Agama Kristen”. Isi kedua buku itu mudah dipahami dan kini menjadi referensi yang efektif untuk menangkis gerakan Kristenisasi diLampung. Rencananya tak lama lagi, Yusuf pun akan merampungkan sebuah buku yang masih terkait dengan Islam dan Kristen. “Ke depan, insya Allah saya akan mendirikan Lembaga Dakwah Kristologi di Lampung,” katanya.

Yusuf lahir di Gedungtataan, Kabupaten Lampung Selatan, 15 Desember 1972. Anak pasangan Tan Sin Nio dan Lie Cun Bi ini mulai mengenal Islam sejak kecil. Tepatnya tahun 1979, ketika Yusuf pertama kali ikut pamannya yang sudah lebih dulu masuk Islam. “Alhamdulilah paman saya sudah lebih dulu masuk Islam,” katanya. Karena itulah, Ke-Islamannya sudah dimulai sejak berada di rumah pamannya. Di Teluk Betung, tempat tinggal pamannya, Yusuf ‘kecil’ sering mengikuti ibadah ritual sang paman, seperti shalat, puasa dan ibadah lainnya. Ia juga sering merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bersama keluarga pamannya.

Kendati secara resmi saat itu belum masuk Islam, namun pada identitasnya tercantum agama Islam. Saat menulis biodata di rapor, pamannya mencantumkan Islam dalam kolom agama rapor Yusuf. Walau demikian, waktu itu Yusuf masih mengikuti kebaktian agama Kristen di gereja.

Secara resmi, Yusuf memeluk Islam saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Tak beberapa lama setelah itu, Yusuf dikhitan. Suami Sumiati (alm) yang menikah tahun 1999 ini, baru tergerak hatinya dan mantap mendalami Islam saat duduk di kelas satu SMA. Awalnya, Yusuf mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya, Rasulullah saw memberitahukan kepada Yusuf bahwa Islam adalah agama yang benar dan harus jadi pegangan seluruh umat manusia di dunia.

Hal serupa dialami Yusuf ketika mimpi bertemu Nabi Isa as. Dalam mimpinya Nabi Isa menyatakan kepada Yusuf, bahwa setelah kedatangannya sebagai utusan Allah SWT, akan ada lagi nabi terakhir yang akan menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya. “Sejak mimpi bertemu Nabi Muhammad dan Nabi Isa, saya mulai mantap meyakini kebenaran Islam,” tegasnya.

Di SMA, Yusuf terlibat aktif di organisasi Kerohanian Islam (Rohis). Rohis ini menjadi organisasi Islam pertama yang dia ikuti. Bersama teman-teman Rohis, Yusuf giat mengadakan berbagai kegiatan ke-Islaman, termasuk program yang disebut Studi Islam Berkala (SIB).

Untuk menambah pengalaman organisasi, Yusuf aktif pula di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), baik di kota Bandar Lampung maupun di tingkat wilayah. Jabatan terakhir Yusuf di PII adalah sebagai Koordinator Brigade Kota Bandar Lampung.

Atas usulan teman-temannya, ke-Islaman Yusuf ‘dilegalkan’ di Kantor Urusan Agama (KUA), pada 18 November 1994. Saat itu juga ayah dari M Habiburrahman al-Islami ini kembali mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan syarat utama masuk Islam.

Seperti dialami para mualaf umumnya, ke-Islaman Yusuf pun tak berjalan mulus. Reaksi keluarga besarnya saat tahu dia memeluk Islam, terbelah. Pihak keluarga besar ibu sangat mendukung ke-Islaman Yusuf, sebab sebagian besar keluarga besar dari pihak Ibunya memang sudah banyak yang masuk Islam. Tantangan sangat keras datang dari pihak keluarga besar ayah. Mereka menentang keras, karena berpendapat semua agama, baik Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lainnya adalah sama. Sama-sama menyembah Tuhan yang menciptakan manusia.

Saat ini komunikasi dan silaturahim dengan keluarga besar memang belum bisa berjalan secara teratur karena kesibukan masing-masing keluarga. Apalagi kebanyakan tempat tinggal mereka di luar Lampung. Namun Yusuf masih terus berhubungan, minimal melalui telepon atau surat. “Silaturahim masih terus dijalankan, minimal bertelepon dan berkirim surat,” katanya.

Pengalaman berorganisasi di SMA tampaknya menjadi bekal penting Yusuf di kemudian hari. Kini selain aktif di organisasi ke-Islaman, seperti di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Lampung, ia juga terlibat di Gerakan Mubaligh Islam (GMI) Lampung. Kedua organisasi ini termasuk yang paling kencang menghadang gerakan kristenisasi di Lampung.

Di Lampung, jika dulu kristenisasi banyak menyerang masyarakat pedesaan, terutama desa-desa terisolir, kini sudah masuk ke wilayah perkotaan. Bahkan kristenisasi juga menyerang kampus-kampus yang mayoritas mahasiswa, dosen dan karyawannya Islam, seperti di Universitas Lampung (UNILA).

Cara pemurtadan yang dilakukan pun beraneka ragam. Di samping merancukan akidah Islam, seperti mengatakan bahwa semua agama adalah sama, juga menggunakan black magic, hipnotis dan penyerangan dengan meminta bantuan jin.
Bersama teman-teman di GMI, Yusuf membuat program pembinaan masyarakat hingga ke pelosok desa. Program ini bertujuan untuk menangkis gerakan pemurtadan yang belakangan kian gencar di Lampung.

Sama halnya saat memutuskan diri memeluk Islam, kegetolan Yusuf berorganisasi pun tak luput dari sorotan keluarga besarnya. Sebagian besar keluarga Yusuf menentang kiprahnya di organisasi Islam karena berpendapat Islam cukup dengan shalat, puasa, membayar zakat dan naik haji. “Meski perlu cukup lama untuk menjelaskan ini semua kepada keluarga, namun alhamdulillah akhirnya mereka dapat menerima dan memahami betapa pentingnya ikut berbagai organisasi, di samping menambah pergaulan dan teman, juga dapat mendatangkan kebaikan,” katanya.

Itulah sekilas profil singkat dai muda asal Lampung ini. Di usianya yang relatif masih muda, Yusuf sudah berbuat untuk umat, di antaranya usaha kerasnya menghadang gerakan kristenisasi di Lampung.

Sumber : (Sabili) Rivai Hutapea

http://mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/117/Yusuf_al-Islami_

Oey Kiam Tjeng : Islam, Jalan Terbaik untuk Kami


Siapa sangka kalau pada akhirnya jalan Islam juga yang menjadi pilihan hidup saya, sekian lama batin saya terasa kering dan rindu akan sentuhan rohani, seperti yang saya dapat dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. ini. Saya merindukan Islam, agama yang insya Allah akan memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada saya dan keluarga. Sava lahir di Cirebon,18 Mei 19.50 dengan nama Oey Kiam Tjeng. Meski terlahir sebagai WNI keturunan Cina, saya bersyukur karena masih diterima di lingkungan tempat tinggal saya, yang tentu saja didominasi kaum pribumi.

Mereka, orang-orang Cirebon, sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya, adalah pemeluk agama Islam yang taat. Saya yang ketika itu masih kanak-kanak, sedikit-banyaknya jadi tahu apa itu Islam, lewat apa yang dikerjakan oleh teman-teman sepermainan, juga orang-orang Islam dewasa yang berada di sekeliling saya. Masa kanak-kanak adalah bagian terindah dalam hidup saya, karena pada masa itu saya tidak pemah merasakan ada perbedaan di antara manusia. Saya tidak peduli kalau kulit saya kuning bersih dan bemata sipit, sementara teman-teman saya yang lain berkulit sawo matang atau kehitam-hitaman, dengan mata dan bibir yang besar dan juga termasuk soal agama yang kami anut.

Saya yang saat itu beragama Budha, sesuai agama keluarga kami, seringkali pula duduk di pengajian, karena teman-teman saya hampir semuanya ada di sana saat selesai shalat magrib, sampai menjelang isya. Saya merasa, apa yang saya lakukan saat itu adalah hal yang wajar-wajar saja, sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya yang lain. Apa yang saya anggap biasa-biasa itu, temyata tidak demikian di mata orang tua saya. Mama sempat menegur saya ketika saya dengan polos menirukan gerakan orang shalat, seperti yang pemah saya lihat saat bermain di rumah teman yang beragama Islam. Mama bilang saya tidak boleh sembarangan melakukan gerakan itu.

"Itu gerakan ibadah yang dianggap suci dalam agama Islam. Jangan sembarangan" Teguran mama saya patuhi. Saya tidak lagi sembarangan meniru gerakan orang shalat, karena saya mulai tahu kalau itu adalah semacam pelaksanaan ibadah yang suci dalam agama Islam, yang harus dihormati.

Dianggap Orang Luar

Pada akhirnya, apa yang selama ini saya khatiwatirkan terjadi juga, yang membuyarkan impian masa kecil saya tentang indahnya arti hidup tanpa ada perbedaan lahir maupun batin. Saat sekolah di SMU, saya mulai dianggap sebagai "orang luar", karena saya memang sedikit berbeda dengan mereka, orang-orang Indonesia ashi. Namun, saya tetap berkeyakinan kalau semua itu cuma berlaku sebagai ejekan teman-teman belaka. Tekad yang ada dalam hati saya saat itu cuma satu, meski cuma WNI keturunan Cina, tapi saya juga punya semangat dan rasa cinta tanah air Indonesia, seperti pribumi lainnya.

Pada masa-masa itu pula, status keagamaan nyaris tak pernah mendapat perhatian saya. Saya memang beragama Budha, cuma sebagai syarat agar tidak dicap sebagai orang yang tak beragama. Hal itu berlangsung terus, sampai saya lulus SMU, kuliah di Akademi Pelayaran, dan bekerja beberapa tahun lamanya.

Tahun 1979, saya bertemu seorang gadis cantik yang juga ketutunan Cina, beragama Kristen. Namanya Thio Loan Kiok. la tipe gadis idaman saya. la cantik, pintar, dan berasal dari keluarga baik-baik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981, kami resmi menikah sesuai agama calon istri saya, Kristen Katolik. Meski demikian, saya menolak untuk dibaptis dan diberi nama baru. Saya bilang, "Saya mau menikah dengan calon istri Katolik, tapi tidak untuk dibaptis." Waktu itu kami menikah di Cirebon, dan selanjutnya menetap di sana.

Setelah menikah dan punya anak, seharusnya saya merasa puas. Apalagi usaha yang saya jalani di Cirebon cukup berhasil dan membuat kehidupan kami cukup, bahkan berlebih. Tapi, tidak demikian kenyataannya. Kadangkala saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam diri saya, yakni status keagamaan saya. Entah mengapa, perasaan itu datang dalam hati dan mengganjal pikiran saya. Tapi saya berusaha untuk tidak terlalu larut dalam keadaan itu dengan jalan menyibukkan diri pada pekerjaan.

Menerima Islam

Tahun 1985, saat saya memutuskan untuk pindah ke Plered, Jawa Barat. Bisa dikatakan ini sebagai awal pertemuan saya kembali ke Islam dan itu terjadi lewat kejadian tidak disengaja dan unik. Ceritanya bermula saat istri saya yang mengurusi KTP mendapatkan status keagamaannya (tak disengaja) tertulis Islam, padahal ia beragama Kristen Katolik. Tapi istri saya anehnya tidak merasa keberatan dengan kesalahan itu. la yang memang sudah tidak terlalu aktif dengan kegiatan di gereja, yang terletak di kota Cirebon, bahkan terlihat senang-senang saja dengan ketidak sengajaan petugas kecamatan itu.

Saya pun jadi iri, hingga saya katakan pada pengurus kecamatan untuk mencantumkan agama Islam dalam KTP saya. Permintaan saya itu disambut antusias oleh pegawai kecamatan itu, hingga akhirnya jadilah kami berstatus agama Islam, meski hanva dalam KTP.

Selanjunya, istri saya jadi semakin tertarik pada agama Islam. Begitu pun saya. Dari peristiwa KTP itu, saya merasa seolah-olah itu adalah jalan kami berdua untuk menjadi seorang muslim. Jalan menuju Islam antara saya dan istri saya memang sedikit beda. Kalau istri saya barangkali lebih menggunakan perasaan, terutama seperti yang is ceritakan betapa is merasa ingin sekah mengenakan mukena yang biasa dipakai wanita muslimah saat shalat, maka saya 'lebih menggunakan rasio atau akal'.

Saya coba mencari tahu apa itu Islam lewat buku-buku secara diam-diam. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun lamanya mencari-cari, pada 10 November 1991, saya dan isteri resmi menjadi pasangan muslim, lewat bimbingan Drs. H. Salim Badjri. Proses pengislaman yang berlangsung di Cirebon itu adalah awal kebahagian yang sava dapati saat ini. Setelah masuk Islam nama saya berganti menjadi H.M. Andaka Widjaya.

Meski pada tahun-tahun pertama keluarga dari pihak istri saya, yang kini bernama Hj. Siti Aisyah Kristanti, kurang bisa menerima hal itu, tapi kami berdua menganggap itu sebagai bagian dari perjalanan keislaman kami.

Kini, saya dan istri serta anak-anak, hidup bahagia di Plered, membuka usaha yang bisa dibilang berhasil. Saya bahkan segera bergabung dengan Yayasan Karim Oey, sebuah lembaga yang anggotanya adalah orang-orang peranakan Cina yang masuk Islam. Kantor pusatnya di Jakarta.

Dan, saya dipercaya untuk menjabat sebagai kepala perwakilan Cirebon. Dan, yang paling membuat sava bahagia adalah bahwa saya dan istri sudah menunaikan ibadah haji yang kami laksanakan pada tahun 1995. Sungguh nikmat Allah SWT tiada terkira kepada kami sekeluarga. Dalam hati saya berkata, inilah jalan hidup terbaik untuk sava. Insya Allah saya tidak akan pernah lagi lepas dari jalan Islam ini.

"Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com/

Tan Ping Sien (Muhsin): Ajaran Yesus untuk Bani Israel ?


DALAM soal agama, mungkin saya termasuk jenis manusia yang suka coba-coba. Bukan sembarang coba-coba, melainkan sebuah upaya untuk mencari pegangan hidup yang sesuai dengan pilihan hati nurani. Karena, agama yang pernah saya anut tidak sesuai dengan kata hati, akhirnya saya jadi "petualang" agama demi mencari hakikat kebenaran. Dimulai dari Konghucu, saya pindah ke kebaknan (kejawen), lalu meloncat ke Kristen, dan kemudian mantap di Islam.

Saya dilahirkan pada 4 April 1938 di Kepanjen, Solo, Jawa Tengah. Kedua orang tua saya adalah WNI keturunan Tionghoa dan menganut agama Konghucu. Karena ayah dan ibu saya Konghucu, otomatis saya terlahir sebagai penganut Konghucu. Namun, keyakinan itu tidak begitu melekat karena ayah saya memang tak peduli dengan urusan itu. Di usia remaja, saya pindah ke kebatinan (kejawen). Di sini pun hati saya belum sreg. Karena teman saya banyak yang beragama Kristen, saya pun akhirnya tertarik untuk menjadi pengikut Yesus.

Di agama yang berlambang salib ini, saya agak kerasan. Tapi, saya tak berhenti pada satu sekte saja. Saya berpindah sekte, mulai Pantekosta, Kitok Kauhwe, ke Bethel Injil Sepenuh. Di sekte yang disebut terakhir ini, saga sempat dipermandikan untuk membasuh dosa-dosa.

Ketika usia saya mencapai 22 tahun, saya menikah dengan seorang gadis beragama Islam. Walaupun kami menikah dengan cara Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari, saya tetap konsisten dalam melaksanakan ajaran agama asal saya. Sementara, keislaman istri saya tidak begitu kokoh, sehingga tak jarang is ikut saya ke gereja.

Pada tahun 1969, saya mulai menginjakkan kaki di Jember, Jawa Timur, setelah usaha saya di Solo kandas. Terus terang, usaha saya saat itu memang serabutan. Saya terlena dan memperturutkan kesenangan duniawi, sehingga begitulah akibatnya.

Di awal tahun 1973, saya menikah lagi dengan seorang gadis Kristen di Solo. Hal ini membuat saya semakin sibuk, karena selain dikejar-kejar oleh keharusan memenuhi nafkah dua istri, saya juga harus bolak-balik Solo-Jember. Kendati begitu, saya tak melalaikan kewajiban sebagai penganut Kristen. Di waktu-waktu luang, saya tetap mempelajari Injil, juga tetap rajin ke gereja. Namun, dari situlah saya menemukan keanehan dalam soal ketuhanan Yesus.

Saya ragu dan khawatir, jangan-jangan Yesus tak sudi berbuat sesuatu untuk menolong saya di akhirat kelak. Sebab, Yesus diutus khusus untuk Bani Israel. Itu artinya, orang-orang di luar bangsa Israel tidak berhak menuhankan Yesus. Yesus pun tentu tak ada kewajiban untuk melindungi pengikutnya selain bangsa Israel. Termasuk umat Kristen di Indonesia. Sebabnya jelas, Yesus diutus untuk Bani Israel. Keterangan serupa bisa dibaca pada Kejadian Rasul-rasul 5:1.


Mempelajari Islam

Dari keraguan itu, saya mencoba mempelajari Islam. Saya membanding-bandingkan antara AI-Qur'an dan Injil, khususnya tentang kerasulan Muhammad. Apa Muhammad diutus untuk orang Arab saja? Temyata tidak. Muhammad diutus untuk seluruh urnat manusia. Bahkan untuk seluruh alam (rahmatan Iii 'alamin).

Hal itu bisa dilihat dari ayat atau hadits yang bersifat seruan dakwah, umumnya berbunyi, "Wahai manusia...," bukan "Wahai bangsa Arab..." Logikanya, siapa saja yang bernama manusia, boleh, bahkan wajib masuk dalam kategori seruan nabi untuk mengimani Allah.

Bahwa At-Qur'an dan Nabi Muhammad menggunakan bahasa Arab, itu berkaitan dengan kondisi masyarakat yang akan dibina. Sungguh tidak lucu bila di lingkungan si pembawa dakwah (nabi), sang nabi malah berbicara dengan bahasa Inggris, misalnya. Di samping tak komukatif, juga tak efektif bagi upaya dakwahnya.

Akhirnya, di pengujung tahun 1973, saya resmi masuk Islam di Jember. Nama saya diganti menjadi Muhsin. Tiga tahun kemudian saya menyunting wanita Jember sebagai istri ketiga. Dia seorang muslimah yang taat. Dua istri saya yang lain (di Solo), akhirnya saya tinggalkan. Sejak saat itu pula saya menetap di kota Tembakau ini. Soak itu pula hati saya semakin terdorong untuk memahami agama Islam.

Sebenarnya saya sangat berharap agar ketiga saudara saya bisa mengikuti jejak saya. Saya ingin mereka seiman dan seagama dengan saya. Namun, keinginan itu hanya sebuah kesia-siaan belaka. Saya menemui kendala yang tak ringan untuk membimbing langkah mereka ke jalan yang lurus. Tetapi saya bangga masih bisa mengislamkan orang dengan membawa iman Islam.

Selanjutnya, kehidupan kami berjalan sebagaimana biasa. Untuk mengisi aktivitas keagamaan, sampai sekarang saya masih aktif men uti manaqib di Pesantren A1-Qodiri Gebang, Jember. Selain itu, saya juga aktif di Organisasi Pembina Iman Tauhid Islam atau Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di bagian Dakwah.

Kini, saya hidup bahagia bersama istri dan dua orang anak di dusun Suka Makmur, desa Klompangan, Kec. Jenggawah, Kab. Jember, Jawa Timur. Semoga kebahagiaan ini mengantarkan saya menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, betapa pun kecilnya.

("Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ )

Budi Kristyanto: Dari Vatikan Hingga Khilafah


Aku anak ketiga dari tujuh bersaudara. Terlahir di tengah keluarga Kristen Katolik yang taat di Jakarta pada 23 Desember 1979 dengan nama Ignatius Budi Kristyanto. Setiap Minggu aku rajin ke gereja. Bahkan rumahku pun sering dijadikan tempat koor teman-teman orang tuaku.

Ayah mendidik anak-anaknya untuk terbuka dan kritis. Tidak menelan mentah-mentah informasi apalagi yang terkait dengan keyakinan. Apa yang menjadi gejolak pencarian kebenarannya selalu dilempar pula ke anak-anaknya termasuk aku, padahal aku masih SD.

Ia pun menceritakan dialognya dengan Romo di gereja. “Yesus itu siapa? Kalau Yesus adalah Tuhan mengapa ia diciptakan? Mengapa Tuhan ada tiga? Padahal dalam Bible sendiri Yesus tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Sayangnya Romo selalu menjawab seperti ini: “Jika saya jawab keimanan kamu akan menurun”.

“Itu jawaban tidak bijak,” ujar ayah. Sehingga aku menjadi ikut berpikir. Sejak saat itu pun aku mulai meragukan trinitas dan mulai meyakini Yesus bukan Tuhan.


Kecewa

Meskipun nyebelin, karena mereka suka nyentil-nyentil masalah keimanan, aku sering sekali bergaul dan bertukar pendapat dengan teman-teman Muslim padahal kami masih SD. Ada satu omongan dari temanku yang tidak sengaja kudengar. Rupanya mereka cemburu sama umat Katolik, yang membangun gereja.

“Di sana tiba-tiba ada gereja gede, itu dari Vatikan paling,” ujarnya kepada teman yang lain. Aku pun menimpali, “Lho memang kenapa kalau dari Vatikan , itu kan dari pimpinan agamanya sendiri dari Roma sampai ke sini bisa memberikan dananya, itu kan hebat banget berarti kan umat Katolik solid, nah kenapa kamu nggak punya?”.

Ketika aku kelas 1 SMP ayahku masuk Islam. Aku agak sedikit kecewa, mengapa ayah masuk Islam sehingga dalam keluarga ada dua agama. “Biar tidak dua agama ya semuanya masuk Islam dong,” kata ayahku. Tentu saja aku menolak. Ibu dan saudaraku pun demikian.

Karena saat itu aku menganggap bahwa sebuah agama itu dilihat dari umatnya bukan dari ajaran dalam kitab sucinya. Aku lihat umat Islam itu kan miskin, suka cekcok, banyak yang jadi pencuri. Sedangkan umat Katolik itu solid atau guyub. Misalnya saat koor, menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Dan sering banget koor tersebut diadakan di rumahku.

Aku melihat kok solid banget, kesannya tidak dikoordinir kok kompak banget. Ada yang bawa makanan, nyumbang uang dan lainnya padahal tidak diminta. Aku pun tidak pernah melihat bila ada gereja dibangun dan panitia pembangunan gereja minta sumbangan di jalan-jalan.

Kesolidan semacam itu tidak aku lihat di umat Islam. Itulah yang menjadi rem bagiku sehingga tidak kunjung masuk Islam. Meskipun berulang kali ayah sering mengatakan bahwa Bible itu isinya beda tahun terbitan ya berubah. Jadi sudah tidak asli lagi. Aku tetap bersikukuh.


Masuk Islam

Kelas 1 SMA, aku berpikir lagi lantas aku ini umat apa? Islam bukan Katolik juga bukan. Wah jadi umat yang bukan-bukan dong. Berarti ini ada yang salah. Apakah aku belum memahami Katolik secara menyeluruh atau belum memahami Islam secara menyeluruh.

Aku pun memperhatikan aktivitas di mushala sekolah, suasananya memupus stigma negatifku tentang Islam. Dan mungkin ini agak tidak rasional ya, di mushola tersebut terasa sejuk, padahal udara di sekitar begitu panas. Suasana mushala betul-betul hidup, tempat mungil itu tidak hanya untuk shalat tetapi digunakan juga untuk diskusi dan belajar. Ternyata mereka pun guyup!

Aku pun memutuskan turut dalam diskusi itu. Aku sampaikan masalahku. Dengan gamblang mereka menjelaskan bahwa Tuhan atau Allah itu tidak beranak tidak pula diperanakkan, Allah itu berbeda dengan makhluk. “Kalau kamu melihat ajaran agama itu dari umatnya, untuk saat ini, kamu pasti akan melihat tidak ada satu pun agama yang benar di dunia ini,'' ujar salah satu teman sekolahku itu.

Dia pun mencontohkan ketika seseorang itu salah belum tentu kesalahan itu terjadi karena orang tersebut sedang mengamalkan agamanya. Di Indonesia banyak pencuri beragama Islam itu karena di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Coba tengok Filipina, di penjaranya dipenuhi pencuri yang beragama Kristen. “Apakah Kristen mengajarkan umatnya mencuri? Kan tidak, begitu juga Islam,” ujarnya.

Jadi kalau mau tahu ajaran itu benar atau salah harus langsung merujuk kepada sumber ajaran itu sendiri, yakni kitab sucinya. Pas aku baca Alquran dan mempelajari Islam lho ternyata di Islam pun mengajarkan kasih sayang dan moralitas lainnya yang ada di Katolik. Ya penjelasannya memang mirip dengan penjelasan ayah. Namun pikiranku baru terbuka ketika diskusi dengan mereka.

Cocok dong dengan Katolik. Tapi Islam ada kelebihannya, pikirku, karena masalah ketuhanan Islamlah yang benar! Maka aku pun langsung masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya keluargaku semua masuk Islam.

Setahun setelah lulus kuliah, tepatnya pada tahun 2005 aku menikah. Alhamdulillah pemahamanku tentang Islam semakin membaik. Karena istriku banyak menyampaikan apa-apa yang dia pahami tentang Islam. Awalnya aku selalu mendebat tetapi jawabannya mematahkan argumenku.

Jawabannya mencerahkanku, ternyata Islam tidak seperti yang aku kira selama ini. Aku kagum, olok-olokanku waktu SD itu, “mengapa kamu tidak punya Vatikan!” ternyata umat Islam itu dulu punya. Sekarang umat Islam menjadi begini karena institusi tersebut sudah tidak ada. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah Islam. Untuk memahami Islam lebih dalam aku pun turut mengaji.

Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah tegak lagi. Karena Khilafah mengurus juga masalah pendidikan, ekonomi, politik, sistem pergaulan, pemerintahan dan lainnya yang semuanya itu bersumber dari Alquran dan Sunnah. Subhanallah.[]

Joko Prasetyo, MediaUmat.com

Melky Seddek (Muhammad Mulki Ibrahim)


“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memperoleh hidayah-Ku, niscaya akan Kami tunjuki jalan-jalanKu" (QS. Al-Ankabuut: 69).

Kutipan ayat tersebut mungkin cocok disematkan kepada Muhammad Mulki Ibrahim atau Melky Seddek yang hijrah kembali ke Islam setelah mendengar adzan. Mendapatkan siksa, hingga melarikan diri dari Sulawesi menuju Bandung merupakan perjuangannya untuk mempertahankan keyakinannya akan Islam.

Dilahirkan di Kota Palu Sulawesi Tengah, 20 tahun lalu dengan nama baptis Melky Seddek dalam keluarga Toraja Kristen yang taat dimana dalam tradisi, keluarga Toraja harus menjadi misionaris. Orang tuanya pun berharap Melky menjadi misionaris. Sehingga sejak kecil dirinya aktif di kegiatan gereja, bahkan ketika SMP dan SMA dirinya menjadi ketua PPK (Persatuan Pelajar Kristen) Palu.

Suara Yang Menggetarkan

Saat itu hari Jum’at, seperti biasa Melki pun memberikan khutbah atau kebaktian ke sekolah-sekolah. Saat itu SMA 3 Palu merupakan tujuannya, bersama seorang teman Melki pun harus melintasi sebuah masjid untuk sampai ke sekolah tersebut. Adzan pun berkumandang hingga mengantarkan Melki sampai ke tujuan.

Entah mengapa hatinya bergetar mendengar suara adzan. Bingung dan kaget pun menjadi satu. Dia ingat peristiwa itu terjadi Desember 2004 menjelang natal, “Anehnya sebelum berkhutbah, ada pergumulan hebat dalam hati ketika mendengar suara adzan. Kenapa dan ada apa ini?” Katanya mengenang.

Suara adzan yang didengarnya ternyata membawa keraguan terhadap keyakinannya terlebih ketika membaca Alkitab. Perenungan pun dilakukan, namun tetap tidak ada jawaban yang memuaskan dirinya.

“Hampir sama dengan kebanyakan muallaf lain yang hijrah ke Islam karena banyak menemukan kontradiksi dalam Alkitab. Saya pun demikian, konsep ketuhanan yang membuat saya ragu terhadap Kristen.” Tegasnya.

Melky pun tertarik dengan Islam, Ia ingat saat itu Ramadhan 2005 dirinya melihat Masjid penuh dengan jamaah. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Pemuda ini pun menonton acara Tafsir Al Misbahnya Quraish Shihab ketika tidak ada anggota keluarga lainnya di rumah. Selain Al Qur’an ternyata Melky tertarik shalat dirinya pun kemudian membeli buku kecil tentang Risalah Shalat.

“Saya pun mulai mempraktikan gerakan shalat dan hal itu saya lakukan setiap tengah malam di kolong tempat tidur. Entah kenapa begitu mudah untuk bangun malam. Ada ketenangan dan kedamaian seusai shalat, meskipun saya tidak tahu apakah wudhunya saat itu sah atau tidak” katanya sambil tersenyum.

Agar lebih khusyuk, Melky pun pindah tempat shalat. Kamar kosong di ruang tengah menjadi pilihannya untuk beribadah. Menggabungkan shalat dalam satu waktu seringkali dilakukan, bahkan terkadang juga sehari shalat sehari tidak karena saat itu dirinya belum bersyahadat di hadapan manusia.

Melarikan diri ke Bandung

Seperti biasa Melky melaksanakan shalat, ternyata sang Bapak tahu kemudian mendobrak pintu ruangan yang dikuncinya. “Malam itulah awal dari pertengkaran saya dengan bapak. Jika sebelumnya hanya pertengkaran mulut, penyiksaan fisik pun mulai dilakukan. Bahkan bapak hampir pernah melempari pisau agar saya tidak melaksanakan shalat dan bisa aktif kembali ke gereja”

Intimidasi dan siksaan terus dilakukan sang bapak, pilihan yang berat pun harus dipilihnya ketika sang bapak mulai mengancam untuk telanjang dan menyiksa dirinya sendiri, namun Melky tetap yakin akan Islam. Hingga suatu malam dirinya mencoba melaksanakan shalat kembali dan mengultimatum Allah “ Ya Allah seandainya Engkau benar-benar Tuhan maka keluarkan aku dari tempat ini dan jika tidak maka aku akan kembali kepada ajaran semula”

Allah-pun mengabulkan doanya melalui Uriap Riansyah, seorang teman dari Bali yang datang dan memberikan uang Rp 500 ribu, entah karena apa. Dengan uang tersebut Melki pun berniat pergi dari Sulawesi, rencana ini disampaikan ke ibunya, meskipun berat melepaskan anaknya sang ibu akhirnya merelakan dan mengantarkannya ke Pelabuhan Pantoloan.

Bandung pun menjadi tujuannya, kenapa Bandung dirinya pun menjawab “Karena sejak umur 9 tahun saya adalah atlit nasional karate perwakilan Sulawesi Tengah dan ketika SMA saya mengikuti kejuaraan nasional karateka di UPI, jadi pernah ada gambaran bagaimana Bandung itu”.

Pengalengan menjadi tujuannya karena ada keluarga jauh sang ibu yang berada di wilayah tersebut. Di sinilah Melky melakukan silaturrahim, hingga akhirnya bertemu dengan Ustad Mimid (Ketua MUI Pengalengan). Mulki pun menceritakan semua kisah hidupnya. Mendengar Mulki belum bersyahadat, Ustad Mimid pun mengajaknya ke KUA Pengalengan dan bertemu dengan Pak Ahmad Rozali. Disaksikan Ustad Nurdin (alm), Ustad Mimid dan Pak Ahmad Rozali Mulki pun mengucapkan syahadat.

Kehidupan dan Harapan ke Depan

Muhammad Mulki Ibrahim itulah nama baru yang disandangnya, nama pemberian ketiga orang saksi tersebut dengan harapan dirinya menjadi seorang hamba yang memiliki sifat seperti Nabi Muhammad, ingat akan masa lalunya ketika berjuang membenci Islam serta terus bersemangat seperti Nabi Ibrahim berjuang mencari Rabb-Nya.

Setelah silaturrahim ke KUA, agar lebih afdhol Ustad Mimid pun mengajaknya ke Masjid Agung Pengalengan untuk bersyahadat kembali. Akhirnya Muhammad Mulki Ibrahim bersyahadat kembali disaksikan ratusan orang yang bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jum’at. Desember 2006 peristiwa itu terjadi.

Singkat cerita dirinya pun berkenalan dengan Ustad Asep Yaya untuk mengkaji Islam lebih jauh, dari sinilah pemahamannya tentang Islam semakin bertambah. Apalagi dirinya kemudian diminta untuk melanjutkan ke Ponpes Ngruki di Solo. Melky pun kembali ke Pengalengan, mempersiapkan kebutuhannya untuk mondok. Ternyata Allah punya skenario lain, Orang tuanya datang ke Pengalengan dan meminta dirinya untuk tidak mondok di Ngruki, apalagi saat itu ramai kasus terorisme.

“ Akhirnya saya dan orang tua membuat perjanjian, mereka tetap memperbolehkan saya tinggal di Bandung asalkan tidak melanjutkan ke Ngruki. Satu hal lagi mereka akan membiayai S2 namun tidak boleh mengambil jurusan yang berkaitan dengan Islam. Untuk poin yang kedua entahlah, bagaimana nanti”. Ujarnya.

Karena telah jatuh cinta terhadap Al Qur’an dirinya pun mengambil jurusan Tafsir Hadist di UIN Sunan Gunung Djati. Mahasiswa angkatan 2007 ini kini mengisi hari-harinya dengan aktivitas dakwah, mewujudkan cita-citanya memberikan pencerahan kepada umat. Namun ada hal yang masih menyisakan kesedihan yaitu keyakinan keluarganya.

“ Alhamdulillah ibu sudah mengikuti jejak saya, namun bapak, kakak dan adik saya masih dengan keyakinan semula. Saya berharap Allah memberikan hidayah bagi mereka semua dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang indah ” harapnya

http://myquran.com/forum/showthread.php/595-Kisah2-Mualaf-ed.-II/page2

Wenseslaus : Iman Kepada Muhammad Sekaligus Isa


Ada kerugian ganda bila aku tetap dalam Katolik yaitu tidak beriman kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan setiap hari aku berarti mengkhianati ajaran Yesus.



Aku lahir di Kotamobagu Manado pada 1949. Nama baptisku Wenseslaus. Ibuku Muslim. Walau ayahku non Muslim, tapi beliau masuk Islam ketika menikahi ibuku. Berarti aku lahir sebagai seorang Muslim. Karena pada waktu itu orang tuaku beranggapan semua agama benar, semua agama sama.

Kami delapan orang bersaudara. Semuanya disekolahkan di sekolah Katolik. Menurut orang tua saat itu, bilamana kami telah dewasa, kami dipersilahkan untuk memilih agama apa. Nah pengaruh sekolah itulah membuat kami semua beragama Katolik.

Keluarga Sakinah

Karena kesulitan ekonomi, pada 1976 aku hijrah, mengadu nasib ke Jakarta. Kemudian aku berkenalan dengan Waruba Yarub dalam rangka hubungan bisnis. Aku menempati salah satu kamar rumahnya. Namun Waruba dan keluarganya berbeda dengan kebanyakan Muslim yang kukenal.

Aku sering memperhatikan mereka dari kamarku. Waruba dan keluarganya selalu berusaha hidup dengan cara Islam. Kerap kali aku memergoki mereka shalat berjamaah. Waruba seringkali mengajari anak-anaknya tentang Islam.

Karena setiap hari aku berada di lingkungan keluarga yang Islami, dari situlah aku rasakan adanya sentuhan-sentuhan hati.

Selama empat tahun hubungan bisnis kami. Empat tahun pula aku bergaul dan berada dalam lingkungan keluarga sakinah itu. Mereka tidak pernah sekalipun memaksa aku untuk masuk Islam.

Namun mereka selalu menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Bersama mereka, aku merasakan bahwa kehidupan beragama dalam Islam ternyata jauh lebih harmonis. Namun sebaliknya, di waktu yang sama pula aku mulai merasa ada sesuatu yang tak beres dalam hal keimananku.

Akupun kebingungan ketika ditanya oleh Namila, adik perempuan Waruba yang kuliah di IAIN Jakarta: “Mengapa Tuhan ada tiga?.”

Aku hanya menjawab, itu sebagai rahasia Tuhan, otak kita terlalu kecil untuk memikirkan hal itu.” Waruba dan Namila menjelaskan Tuhan itu Esa dan sangat memuaskanku. Akupun buka kartu kepadanya karena di Kristen tidak terbiasa menanyakan masalah itu lebih detail kepada pastur.

Kami hanya disuruh hanya mengimaninya begitu saja tanpa harus tahu mengapa begitu, itulah yang disebut dogma.

Dari mereka aku merasakan kebenaran Islam, sebab dalam agama sebelumnya, masalah akidah dan akhlak tidak secara khusus di ajarkan, apalagi soal halal dan haram. Justru dalam Islam soal akidah dan akhlak sangat diutamakan.

Dijelaskannya kepadaku bahwa tiada Tuhan selain Allah, Allahlah tempat bergantung segala sesuatu, Allah tidak memiliki anak dan tiada diperanakkan. Oleh karena itu Yesus bukanlah Tuhan itu sendiri, bukan pula anak Tuhan.

Akupun dilarang curang dalam menimbang karena itu perbuatan dosa. He..he..he..sebelumnya aku suka curang dalam timbangan. Tapi sejak saat itu aku tidak lagi. Aku selalu dibimbing untuk selalu berbuat jujur oleh Waruba.

Sementara ajaran “kasih” yang sering didengungkan dan paling diutamakan dalam Kristen, tidak aku dapatkan. Tetapi di keluarga yang baru aku kenal di Jakarta ini seperti saudaraku saja, ,mereka penuh perhatian.

Keluarga teman-teman Kristen lainnya yang saat itu hidup dalam ekonomi pas-pasan di Manado, tidak pernah sekalipun diperhatikan dan dibantu oleh teman-teman sesama agama maupun dari pastur.

Keuntungan ganda

Selama empat tahun itu, Waruba mempersilahkan aku mendalami ajaran Islam dan membandingkannya sendiri dengan apa yang aku baca dalam Alkitab (Bible). Akhirnya aku temukan, sesungguhnya Yesus bukan Tuhan tetapi hanyalah hamba dan utusan Allah SWT.

Ternyata bila umat Islam benar-benar mengamalkan Al Qur’an berarti Umat Islamlah yang mengamalkan ajaran kasih sayang dan Umat Islamlah pengikut Yesus dalam arti yang sesungguhnya.

Aku berkesimpulan bahwa dengan memeluk agama Islam, aku mendapat keuntungan ganda, yaitu menjadi pengikut Nabi Muhammad sekaligus tidak meninggalkan Yesus adalah Nabi Isa yang sangat diimani dan dihormati oleh setiap Muslim.

Sementara jika aku tetap dalam Katolik, ada kerugian ganda yaitu tidak beriman kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan setiap hari aku berarti mengkhianati ajaran Yesus.

Karena ternyata sebagian besar ajaran Kristen, baik Katolik maupun Protestan bukan ajaran Yesus tapi ajaran Paulus.

Dari pergaulan dengan keluarga sakinah itulah awal mula aku mendapatkan hidayah dari Allah SWT karena dapat mengenal Islam lebih dekat dan berdiskusi dengan orang yang tepat sehingga aku meyakini bahwa hanya Islamlah sebagai jalan hidup yang benar.

Dalam Islam aku menemukan kedamaian, ketenangan dan cinta kasih antar sesama. Artinya ajaran “kasih” yang sesungguhnya justru diajarkan dalam agama Islam dan aku merasakan itu dari sosok keluarga Waruba bukan pasturku dulu.

Akhirnya, pada 1980, saat usiaku 31 tahun aku memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan dibimbing oleh Imam Masjid Al Muqarabin; Muhammad Hafidz Depok.

Syahadat itu aku ucapkan karena aku yakin memang harus masuk Islam bila ingin menjadi seorang pengikut Yesus sejati.


oleh Joko Prasetyo


Tambahan:


Berdakwah Lewat Tulisan

Awalnya aku menulis buku ditujukan khusus untuk saudara-saudaraku yang Kristen agar mereka mau mengikuti jejakku. Aku kemudian memperbanyak dan menyebarluaskannya agar bisa dibaca oleh umat Kristiani lainnya, agar mereka juga bisa menemukan jalan yang benar. Oleh karena itu, sejak tahun 1994 tulisanku dipublikasikan.

Adapun buku-buku yang telah kususun adalah sebagai berikut: Dialog Rasional Islam & Kristen I, II dan III; Pembelaan Seorang Mualaf; Pendeta Menghujat, Mualaf Meralat; Mualaff membimbing Pendeta ke Surga; Mualaff meluruskan Pendeta; Kontroversi Hari Sabat, 10 Alasan Menjadi Pengikut Yesus yang Setia, Harus Masuk Islam; 101 Bukti Yesus Bukan Tuhan; Debat Al Qur’an vs Bible via SMS; Debat Mualaff vs Murtadin via SMS; Silsilah Muhammad vs Yesus; Mustahil Kristen Bisa Menjawab; Mana Yang Porno, Al Qur’an atau Alkitab?, Bagaimana Berdakwah dengan Kristologi; Mana Yang Bisa di Percaya Al Qur’an atau Alkitab?’ 13 Alasan Mencintai Yesus harus Masuk Islam; Akhirnya sekeluarga itu Memeluk Islam; Finally That Family Converted to Islam; Menyanggah Hujatan Terhadap Ibadah Haji.

Pada umumnya pembahasan dalam bukuku itu menggunakan study comparative, membandingkan antara Islam dan Kristen, antara Al Qur’an dan Alkitab sesuai dengan latar belakangku sebagai seorang Mualaf.

Insan Mokoginta
Peraih Muallaf Award 2006 dan 2007

Media Umat Edisi 14, 11-24 Jumadil Akhir 1430 H/5-18 Juni 2009 Hal 22

http://myquran.com/forum/showthread.php/595-Kisah2-Mualaf-ed.-II/page2

Pendeta Juga Bisa Masuk Islam


Bapak Ragil, begitulah orang memanggilnya. Nama lengkap beliau adalah Agustinus Sri Urip Ragil Wibowo, dilahirkan di Purworejo 12 Maret 1966 dari keluarga pendeta, sedangkan isterinya Ana Maria Dalena dari keluarga pastur. Tak heran jika mereka sangat fanatik terhadap ajaran Kristen yang dianutnya. Kegigihannya dalam menjalankan misi kristenisasi tidak perlu diragukan lagi, sebab beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang Islam pernah dimurtadkannya. Lelaki yang pernah mengikuti pendidikan di Missionairy Training Centre di Jepang dan Jerman ini menceritakan pengalamannya hingga ia mantap memeluk Islam sebagai agamanya.

KALAH BERDEBAT

Pengalaman ini berawal saat saya menjalankan misi kristenisasi yang berkedok program Kesejahteraan Masyarakat pada tahun 1978 dibawah pimpinan seorang tokoh Kristen terkenal di Yogyakarta yang belum lama meninggal (nama dirahasiakan oleh Hidayah). Walau program ini seringkali tersendat karena persoalan dana sehingga terhenti untuk beberapa saat, namun pada tahun 1988-1989 program ini dimulai kembali dan saya terlibat penuh didalamnya. Namun sekali lagi program yang sarat dengan misi kristenisasi ini pun harus gulung tikar untuk sementara waktu karena alasan yang sama. Sampai akhirnya pada tahun 1993-1995 program ini hidup kembali setelah pengelolaannya diserahkan oleh tokoh tersebut kepada saya.

Dibawah komando saya, program ini terbilang sangat sukses, banyak orang Islam yang telah kami murtadkan dengan iming-iming bantuan sosial. Hingga pada saat kami menjalankan program dengan nama Income Generating Project di kecamatan Panggang dan kecamatan Rongkop, saya mendapatkan sepucuk surat dari dari salah seorang tokoh dan pemuka agama Islam setempat yang bernama Bapak Drs. Jalal Muhsin. Didalam surat tersebut diungkapkan, bahwa kami dipersilahkan untuk membantu masyarakat miskin jika benar misi yang kami jalankan itu murni misi sosial, sedangkan Bapak Jalal Muhsin sendiri akan menggarap bidang akidah sesuai dengan yang dianut oleh masyarakat setempat yaitu Aqidah Islamiyah.

Surat yang berisi teguran halus ini saya tanggapi serius dengan meminta waktu untuk bertemu Bapak Jalal guna berdialog seputar akidah masing-masing. Akhirnya pada tanggal 23 Mei 1993 dialog pun dimulai disebuah rumah milik warga setempat. Dialog berlangsung selama tiga bulan yang mengupas seputar kebenaran al-Kitab, ajaran trinitas dan masalah-masalah ketuhanan, namun kami belum menemukan titik temu.

Karena tidak adanya titik temu inilah, akhirnya kami berdua membuat surat perjanjian yang berisi komitmen bersama, bahwa siapapun yang kalah dalam perdebatan, harus rela meninggalkan keyakinan agamanya dan masuk mengikuti agama yang memenangkan perdebatan. Perdebatan demi perdebatan telah kami lalui hingga pada akhirnya saya mengaku kalah. Menurut saya, apa yang diungkapkan oleh Bapak Jalal Mukhsin ini ternyata semua ada dalam al-Kitab. Setelah mengaku kalah dalam berdebat, saya pun akhirnya masuk Islam. Ikrar syahadat saya lakukan di KUA-Menteri Jeron Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 29 November 1993 dan dipimpin langsung oleh Bapak Jalal Mukhsin.

MENGHADAPI BADAI UJIAN

Setelah masuk Islam, saya mengganti nama menjadi Muhammad Abdullah Syahid. Konsekwensi dari keputusan saya ini, saya harus rela dibenci oleh keluarga dan jemaat saya, diputus hubungan keluarga, diusir dari rumah dan digugat cerai oleh sang isteri tercinta. Ancaman fisik dan teror gelap pun sering berdatangan menghiasi hari-hari baru saya. Untuk menyelamatkan akidah dan jiwa saya, saya harus rela hijrah ke Sumatera selatan pada akhir tahun 1993 dengan meninggalkan isteri dan anak-anak saya. Untuk biaya hijrah ke Sumsel, saya menjual gereja yang saya dirikan di Jl. Wates km 9 Yogyakarta kepada Bapak Jalal Mukhsin dengan harga satu juta untuk saat itu.

Di Sumatera saya tinggal di rumah seorang Kepala Desa Karang Agung Simpang Sumatera Selatan dan menjadi bujangan (karyawan) Pak Lurah untuk mengurus kebun dan lainnya. Kemudian saya dipercaya untuk menjadi Sekretaris Desa (Sekdes) dan diresmikan di hadapan masyarakat setempat menjadi adik angkat Bapak Kepala Dusun (Kadus). Selama berada di Sumatera Selatan (1993-1998) saya banyak aktif diberbagai ormas dan lembaga kemasyarakatan seperti aktif di HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) sebagai pembina Kuntum HKTI untuk wilayah Sumsel, menjadi ketua LKMD dan kepala sekolah SMEA persiapan AMPI.

Namun karena kerinduan kepada anak-anak dan isteri, saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta pada tahun 1998. Saya mencoba mengajak isteri tercinta untuk masuk Islam, tetapi keinginan itu belum membuahkan hasil, karena untuk bertemu isteri dan anak-anak saja dibatasi, semua dijadwal oleh pihak gereja. Dengan usaha yang ulet akhirnya isteri saya memutuskan untuk ikut masuk Islam pada tanggal 23 Maret 1998. Hal itu dilakukan semata-mata demi masa depan anak-anak. Karena jika isteri menolak untuk masuk Islam, maka anak-anak akan saya bawa ke Sumatera.

Karena ketahuan masuk Islam, saya beserta isteri dan anak-anak diusir dari rumah mertua pada jam sepuluh malam disaat hujan turun. Kami pergi tanpa arah dan tujuan yang pasti, sampai akhirnya kami menemukan bekas warung yang berdindingkan gedhek (pagar bambu) yang bocor dan sangat kumuh di Jl. Wates km. 9 diwilayah dimana saya mendirikan gereja. Karena keadaan yang sangat mengenaskan ini, anak dan isteri saya sering menangis meratapi kepedihan hidup yang kami hadapi demi mempertahankan keimanan. Padahal pada saat saya dan isteri aktif menjadi pendeta dan misionaris, kami sangat bahagia dengan fasilitas dan gaji masing-masing yang tidak kurang dari 15 juta perbulannya. Namun kini semua berbalik 180 derajat. Bahkan pakaian yang kami miliki sudah tidak layak dipakai lagi karena jamuran terkena hujan akibat rumah gedhek yang bocor.

MEMULAI HIDUP BARU

Cobaan demi cobaan datang silih berganti, mungkin inilah sebagai ujian keimanan seperti yang dijelaskan oleh Allah swt. Setelah mendapatkan tempat bernaung yang sangat kumuh, saya menjual sepeda motor tua untuk membeli alat-alat dapur dan mesin jahit untuk isteri. Karena mencari pekerjaan sangat susah, maka saya rela menjadi penjaga gudang, sesuatu yang tak pernah terbayangkan dibenak saya. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kondisi saat saya masih aktif menjadi pendeta dengan fasilitas dan gaji yang besar. Namun semuanya saya jalankan demi mendapatkan nafkah buat anak dan isteri.

Tetapi alangkah bersyukurnya saya ketika Bapak Sukadiono, Kepala sekolah SD Muhammadiyah 3, dan Bapak Ikhwan Ahada salah seorang guru disana membantu meringankan beban kami dengan menyekolahkan kedua puteri saya disekolah tersebut tanpa dipungut biaya sepeserpun. Untuk mencari tambahan nafkah buat keluarga, dengan kemampuan yang saya miliki, saya mencoba ikut lomba cipta lagu yang diselenggarakan oleh BP7 yang bekerja sama dengan para musisi Yogyakarta. Pada lomba ini saya mendapatkan juara I dan berhak memperoleh hadiah Rp. 2.500.000. Hadiah sebesar itu saya bagi dua dengan pembuat aransemennya. Usaha yang sama juga saya ikuti pada saat lomba cipta lagu untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke 44 di Jakarta, dan alhamdulillah saya dapat meraih juara I dan berhak mendapatkan hadiah 3 juta rupiah. Namun karena kebutuhan hidup yang kian mendesak, sementara untuk makan saja masih susah, maka pada tahun 1999 saya membuka usaha ternak ayam potong untuk dijual.

RAJIN BERDAKWAH

Sekalipun telah masuk Islam, saya belum tahu apa itu Islam yang sesungguhnya. Sebab saya menyadari bahwa saya masuk Islam karena kalah berdebat, sehingga saya sering bertanya tentang apa itu Islam. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang pendeta senior Bapak Rudi, rekan saya pada saat sama-sama aktif di gereja yang telah terlebih dahulu masuk Islam. Mantan pendeta Rudi mengamanatkan kepada saya agar melanjutkan misi dakwahnya, sebab kata beliau, sisa umurnya tinggal tiga persen lagi. Ternyata benar, tiga minggu setelah pertemuan kami itu Bapak Rudi pun meninggal dunia. Untuk merealisasikan amanat tersebut, saya mendirikan Lembaga Dakwah Mualaf (YAKIN). Program yang saya jalankan adalah dakwah door to door, menerbitkan buletin untuk disebarluaskan kepada teman dan mantan jemaat termasuk juga keluarga saya dan isteri. Bahkan dari dakwah ini kami berhasil menarik kembali masyarakat (satu dusun) di desa Purworejo yang dahulu saya murtadkan untuk kembali ke pangkuan Islam. Disamping itu banyak juga para pendeta yang masuk Islam termasuk juga beberapa majelis gereja.

Saat ini saya sering pulang pergi Jakarta-Yogyakarta karena saya memiliki kesibukan di dua wilayah ini. Di yogyakarta saya memiliki anak dan isteri, menjadi pengurus ranting Muhammadiyah, sekjen Putra Ka'bah dan Kepala Biro Litbang DPW PPP, pengurus PDHI, disamping juga disibukkan sebagai penulis buku. Diantaranya adalah: Benarkah Yesus Disalib, Muhammad dalam Taurat dan Injil, Membongkar Strategi Kristenisasi di Indonesia dan Hanya orang-orang kafir yang menyebut Yesus itu Tuhan (wacana Press).

Kisah selanjutnya dapat dibaca di majalah Hidayah edisi Juni 2004.

sumber : http://www.wattpad.com/98507-pendeta-juga-masuk-islam

http://myquran.com/forum/showthread.php/595-Kisah2-Mualaf-ed.-II/page2

Aysha : Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga



Nama muslimnya Aysha. Muslimah ini berasal dari Hungaria Utara. Pertama kali mendengar tentang Islam ketika ia masih di sekolah menengah saat mata pelajaran sejarah. Sekedar informasi, Hungaria pernah berada dibawah pendudukan Turki selama 150 tahun.

Selanjutnya, Aysha kuliah di universitas jurusan biologi molekular, di mana ia bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari negara lain. Sejak lama sebenarnya Aysha bertanya-tanya mengapa Muslim selalu bangga dengan kemuslimannya. Aysha sendiri, ketika itu penganut agama Kristen Katolik. Ia cukup taat dengan agamanya, tapi ia masih meragukan dan tidak setuju dengan beberapa bagian dari ajaran agamanya, misalnya; bagaimana bisa Tuhan memiliki anak laki-laki. Ia juga tidak bisa mempercayai konsep Trinitas dalam ajaran Katolik.

Aysha kemudian sering berdiskusi dengan teman-temannya. Suatu ketika ia dan teman-temannya sedang makan malam dan terdengar suara azan. Saalah seorang temannya meminta mereka diam sejenak, tapi Aysha menolak. Meski demikian, Aysha mengaku sangat terkesan temannya itu dan merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya.

Pada suatu musim panas, Aysha mengunduh program Al-Quran dari internet. Ia tidak tahu mengapa dan untuk apa ia melakukan hal. Aysha lalu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha banyak berpikir tentang agama Islam dan ia mulai banyak membaca banyak buku tentang Islam.

Setelah dua bulan terus memikirkan agama Islam, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh dua sahabat saya, "La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah".

"Saya memilih Islam, meski harus melawan budaya dan keluarga, terutama ibu saya," kata Aysha.

Bulan Ramadan pun tiba. Aysha membulatkan tekadanya untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah bersama bulan suci Ramadan. Dan ia bersyukur karena berhasil melalui bulan Ramadan dengan sukses. Hal yang paling sulit buat Aysha sebagai seorang mualaf adalah saat ia belajar salat, karena ia tinggal di lingkungan non-Muslim dan ia tidak bisa bertanya pada orang-orang di sekelilingnya.

"Saya belajar sendiri bagaimana cara salat dari Internet, karena tidak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana melaksanakan salat , bagaimana cara berwudhu, atau apa doa yang diucapkan sebelum melakukan kegiatan itu serta bagaimana etika dan hukum Islam itu," tutur Aysha.

Aysha pernah punya seorang teman pria yang membuatnya patah semangat. Temannya itu mengatakan bahwa Aysha tidak akan pernah bisa memahami Islam, karena Aysha tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ketika Aysha mengatakan bahwa ia ingin berpuasa pada bulan Ramadan, temannya itu mengatakan bahwa puasa bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar. Waktu itu Aysha baru satu bulan menjadi seorang muslim.

"Saat itu saya ketakutan, bagaimana jika saya tidak pernah belajar menunaikan salat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan saya tidak punya jilbab atau sajadah untuk salat. Tak yang membantu saya, sehingga saya begitu ketakutan," ungkap Aysha.

"Tapi ketika saya mulai salat, saya berpikir Allah pasti sedang tersenyum melihat saya sekarang. Karena saya menuliskan bacaan-bacaan salat di selembar kertas di atas kertas, beserta instruksinya. Saya memegang kertas itu di tangan kanan dan membacanya dengan keras. Kemudian sujud dan membacanya lagi dan begitu seterusnya. Saya yakin saya terlihat sangat lucu. Tapi kemudian saya berhasil menghafal bacaan-bacaan salat dalam bahasa Arab begitu," cerita Aysha.

Aysha lalu membuka akun di Facebook. Di situs jejaring sosial itu, Aysha mendapat banyak teman baru dan banyak saudara sesama muslimah. Dari sahabat-sahabatnya di internet, Aysha mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Seorang laki-laki muslim melamarnya, dari lelaki itu Aysha mendapatkan jilbab pertamanya, sajadah dan buku-buku Islam. Ia juga mendapatkan Al-Quran pertamanya dalam bahasa Arab yang dikirim dari Yordania karena ia sulit mendapatkan Al-Quran di Hungaria. Sekarang, sudah lebih dari setahun Aysha memakai jilbab.

Aysha mengalami periode yang sangat buruk dengan ibunya. Ibu Aysha selalu mengatakan bahwa Aysha akan menjadi teroris, bahwa Aysha akan meninggalkan ibunya seperti Aysha meninggalkan agama Katolik yang dianutnya dan bahwa Aysha juga akan meninggalkan Hungaria, negara kelahirannya.Ibu Aysha menaruh semua makanan yang mengandung daging babi di dalam lemari es dan tentu saja Aysha menolak untuk memakannya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran besar antara Aysha dan ibunya.

"Ibu tidak senang melihat saya salat dan berjilbab. Saya selalu salat di dalam kamar agar ibu tidak melihat aku salat dan mengenakan jilbab. Ibu selalu berkata,'Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan seorang Muslim yang berjilbab'," kisah Aysha menirukan ucapan ibunya.

"Jadi, kami punya masalah serius, tapi saya tidak pernah kasar pada Ibu. Alhamdulilah, ibu sudah tenang sekarang dan tampaknya ia menerima keislaman saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah untuk itu. Sekarang saya keluar rumah dengan berjilbab, dan ibu tidak mengatakan apa-apa," ungkap Aysha.

Hubungan Aysha dengan sang ayah, yang sejak lama dingin dan tidak saling bertegur sapa, juga membaik setelah Aysha memeluk Islam. Aysha mencoba membuka kembali komunikasi dengan ayahnya, dan kini ayah Aysha mulai mengunjunginya secara teratur.

"Ya, hidup saya adalah ujian besar tapi saya bersyukur pada Tuhan karena memiliki kesabaran dan harapan. Pada hari kiamat saya akan sangat bersyukur atas semua itu. Jadi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik, dan belajar lebih banyak dan lebih banyak untuk memahami agama saya," ujar Aysha.

Ia melanjutkan, "Saya percaya semuanya sudah ditakdirkan, jadi apa pun yang Allah katakan akan terjadi kepada saya, tidak bisa berubah, tapi saya dapat memilih untuk menjalani hidup dengan baik."

"Saya sedang membantu sesama di Debrecen. Saya membuat proyek mengumpulkan pakaian bekas untuk kamp pengungsi.. Ada banyak Muslim di sana yang tidak punya rumah karena perang. Jadi kami mengumpulkan pakaian, kami pergi ke sana dan saya membuatkan roti Pakistan untuk anak-anak dan perempuan, mereka sangat bahagia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka," papar Aysha.

Ia juga mencoba memberikan bimbingan pada para pengungsi yang ingin masuk Islam atau baru saja masuk Islam. Di kamp pengungsi Aysha bertemu dengan dua muslimah Hungaria yang baru masuk Islam. Pada mereka, Aysha memberikan buku-buku, sajadah dan Al-Quran. "Alhamdulillah. Kami salat bersama dan mereka benar-benar bahagia," kata Aysha haru.

Aysha menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang ramah dan memiliki hati yang penuh kasih sayang. Dulu, Aisyah akan bersuara keras jika ada seseorang melontarkan pernyataan yang membuatnya merasa terganggu. Tapi sekarang, Aysha selalu memberikan contoh yang baik sebagai seorang muslimah, kemanapun ia pergi. Aysha, meski baru masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, kini sudah menunaikan salat lima waktu dengan rutin, banyak membaca buku Islam dan Al-Quran, berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah dan sekarang sedang belajar bahasa Arab. (ln/iol)


http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/saya-memilih-islam-meski-harus-melawan-budaya-dan-keluarga.htm; http://myquran.com/forum/showthread.php/595-Kisah2-Mualaf-ed.-II/page3

Sang Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu Kini Masuk Islam



Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.

Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.

Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke senatero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.

Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.

Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.

Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.

Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)


http://www.eramuslim.com/berita/dunia/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam.htm